Saturday, August 29, 2015

Khayal kanak-kanak

Kemarin aku berkhayal, hari ini ibu datang.
Memeluk aku anaknya yang kurang bakti. Tanpa syarat.

Pagi tadi aku berimajinasi. Ibu dalam perjalanan kemari. Membawa menu yang aku suka. Makanan sederhana rasa memori.

Siang aku berharap. Ibu tetiba muncul diantara pintu. Tersenyum rindu dan cinta.

Sore aku bermimpi. Bercerita hari dan gurau senda. Ibu...

Sekarang aku bergumam dalam bisik imaji rahasia. Ibu, bolehkah aku pulang?

Sunday, August 9, 2015

a house to remember

Apa sedalam ini rasa mereka ketika harus pergi? Atau hanya kami dan keadaan kami?
Aku bahkan tak didalam mu sekarang. Aku bahkan tak selalu bersamamu dalam 3 tahun terakhir. Tapi aku ingat setiap bunyi pintumu. Semua. Bahkan pintu belakang yang sudah lama tak terbuka lagi.
Telapak kakiku ingat dingin lantaimu. Di setiap ruang. Semua.
Jika tanganku menelusuri setiap jengkal sudutmu, cerita yang berbeda akan mengalir. Deras.
Jika kau dapat bercerita, kuyakin akan terungkap seberapa dalam kami saling menyayangi dan merindukan di tengah jarak yang tak tampak.
Sakit, perih, dan sesakku yang nyata adalah.. Bahwa ketika kelak melangkah keluar pintumu, arah kami tak lagi sama.. :(


Dec 19, 2010

Taksaka

Hampir jam ke-36 di tahun ini. Tapi hati dirasa telah tereksploitasi. Atau memang sudah seharusnya seperti itu? Meluap senang, berdetak bingung, bertanya, berdesir indah, berbisik, teriak, berontak, ragu, takut, jenuh, bersemangat, berharap, jatuh, sakit, sakit sekali, kalah, lelah. Dan bolehkah dia berhenti? Tidak. Karena dia belum mati.
Hidup itu sulit, dia tahu. Hidup itu sakit, ya pasti. Hidup itu berat, siapa yang tidak? Hidup itu keras, tentu untuk menguatkanmu. Jadi jika kakimu tak sanggup lagi menopang tubuh dan pikiranmu, bukan hidup yg tak berpihak. Kaulah yang lemah.
Hampir jam ke-36 di tahun ini. Tapi aku dan hati masi berkutat dengan masalah yang sama. Seolah tak bergerak dari tahun yang lalu. Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai ia merubah dirinya sendiri. Apa kuasaku untuk merubah ini? Keluarlah dari zona nyamanmu, jangan terlalu lama kau berkawan dengannya. Aku? Nyaman? Sungguhkah? Lalu kenapa terasa begini sakit dan lelah?
Yakinku bukan hanya aku yang mendapat luka ini. Luka terbagi rata untuk semua sesuai porsinya. Ya, luka kami sama. Tak ada yang lebih besar. Tak ada yang lebih kecil. Sama. Tapi kenapa aku tak melihat sesiapapun disini. Tanganku menggapai ruang hampa. Ingin bersandar, tp lalu terjatuh kecewa. Ingin dipelukmu, tp bahkan pikiranmu pun mungkin tak bercelah untukku. Dan aku pun kembali bertarung, tanpa kekuatan yang terisi ulang. Setengah hati. Setengah mati. Demi setengah titik perubahan. Astaga!
Bahwa ketika manusia beranjak senja sifat kekanak-kanakannya meluap, aku sudah sering dengar. Tapi jika itu genetik, hanya rasa ku kah? Setitik nila ini bukan hanya tentang kau dan aku, pertiwi. Bukan hanya tentang kita. Mereka pun terpercik rusaknya. Salahku lah yang menggapai uluran mereka ketika akan hanyut. Maaf... Hanya, aku tak bisa sendiri. Sungguh. Aku tak menaruhmu sebagai inangku. Bukan. Kau embun saharaku. Cercah pekatku. Garis senyumku.
Hampir jam ke-36 di tahun ini. Aku dan hati termangu di relung taksaka. Tanpa tau, perjalanan perang kah ini? Atau justru lari dari nya.
Hanya.. Aku rindu 1991. Waktu kau ada disitu. Selalu. Bukan untukku. Tapi yang kurasa begitu.


January 3rd, 2011

Saturday, August 8, 2015

Waktu Sholat

Bertemu Kau dengan telungkup tangan di perut. Hingga saat melakukannya dalam lapar, yang dilafalkan dalam nurani tersembunyi adalah nasi. Maaf..

Melihat yang lain bertemu Kau dengan telungkup tangan di sisi. Mereka bilang itu simbol siap senjata. Ketika bertemu dengan Mu dan memerangi lawan di waktu yang sama. Tapi bukankah pertemuan kita berjaman? 

Lalu aku melakukannya dengan telungkup tangan di atas dada. Tepat di atas jantung. Bukti hidup absolut. Dan itulah keindahan pertemuan ini.

Bagaimanapun keadaanku, detak dan nafas yang terasa di telapak tangan ini, menyadarkan kasihMu yang tanpa syarat. Mendengungkan hanya satu kata: KESEMPATAN.

Untuk yang satu ini saja. Aku tidak ingin debat kusir yang benar atau salah. Ini pertemuan rahasia. Ketika ku rasa dengan cara ini hangatMu tersentuh, maka itulah yang seharusnya.

Kurasakan kembali detakku, dan nafas yang mengalurinya. Hingga terbersit syukurku yang sederhana: Terimakasih percayakan ku hidup yang ini, yang satu ini saja.



-2011

Pria bernama Awang Setiadji

Seperti pendayung rakit. Tak cukup kokoh dan sempurna. Sederhana. Dengan keluasan hatinya, mengorbankan ego-nya. Kebutuhannya. Kebahagiannya.

Dia bisa saja terus melaju ikuti aliran air. Hulu ke hilir. Menemukan samuderanya. Kebebasannya. Kemerdekaannya. Atau bahkan pulau bahagianya. Tapi, dia memilih tinggal. Menunggu di tepi sungai yang dalam menghanyutkan. Mengantarkan sesiapa yang ingin bermigrasi ke sisi seberang. Sisi yang lain. Yang lebih baik.

Aku hanya salah satunya. Dari entah berapa banyak. Yang dibantunya menyeberang.

Masih lekat dalam ingatan. Dialog via telfon kami sewaktu saya duduk di kelas 3 SMP. Beliau menanyakan rencana masa depan saya. Apa yang saya inginkan. Apa yang saya cari.
Jawaban saya sederhana sekali waktu itu. Mau masuk SMK terus cari kerja. haha. Nada bicara mas Awang naik satu oktaf. Alih-alih bicara tentang dongeng klasik "wanita ujung-ujungnya ke dapur juga", beliau menyarankan saya untuk sekolah yang tinggi.
"Masuk SMA. Terus kuliah. Mas yang bayar!"
Kakak lelakiku. Satu-satunya. Dengan 4 adik perempuan. Pahlawan.

Ketika adik perempuannya yang pertama ingin menikah, mas Awang rela menyerahkan nomor antriannya. Tanpa ada syarat suatu apa. Pun ketika adik perempuannya yang kedua. Dua kali sudah.
Kakak lelakiku. Satu-satunya. Dengan 4 adik perempuan. Penjaga kehormatan.

Adik-adiknya sudah lebih dari sekedar "tumbuh dengan baik" sekarang. Tepat ketika tangan cinta Tuhan bekerja. Mas Awang akan menikah :)
Syukurku terucap dari palung hati yang paling dalam. Mas Awang berhak mendapati bahagianya sendiri. Pada akhirnya. Bukan bahagia karena orang lain bahagia.
Kakak lelakiku. Satu-satunya. Dengan 4 adik perempuan. Akan berhenti menepi disini. Melanjutkan perjalanannya. Berkawan.

Alhamdulillah.................................. :)

plastik-1

Seperti plastik bungkus permen. Makin kuat di lempar, makin dekat jatuhnya. Di lempar lembut pun, enggan pergi jauh. Kadang, sudah mengibaskan tangan pun tetap menempel. Seperti ada listriknya. 

Lantas, bagaimana menepikanmu? 
Apa harus menelanmu juga? Lalu mati? 

Pernah mencoba meremasnya hingga menjadi satu bulatan kecil padat. Entah kenapa nampak bisa menambah massa nya. Hingga tak melawan ketika di lempar. 

Apa harus begitu? 
Menekanmu hingga kecil dan kesakitan baru akan pergi? 
Apa benar harus begitu? 
Apa AKU harus BEGITU? 

Atau.. 

Menelan satu saja bungkus permen tidak akan membuat mati. Pengecualian?

plastik-2

Selesai,.. 

Tidak bisa menelannya. Membiarkannya pun tak juga membuatnya mengerti.. 

Jadi lalu.. 
Saya membuatnya kecil, kesakitan, dan pergi. 

Hhhhhhhhhhhhhhh.. 


Bergerak ke atas saja, karena ke depan terasa sangat berpeluh..dan berputar.. 
:|

suci

Dia hanya menanti, kita yang menujunya 
Hingga dibukanya pintu, 
Ternyata tak berkawan di ruang suci 
Apa arti 

Dan jika keluar dari ruang ini pun sepurnama kemudian 
Akankah itu menang? 
Manakala di setiap kedua ujung temu nya 
Hanya berisi air kerinduan kawan 

Ada dua arti seharusnya 
Bersama dan sendiri 
DenganMu dan mereka 
Begini, aku ... 

...senyap...

Inspirasi Rinjani dan Mereka

Mungkin begitu itu ya untuk menujuMu. Sulit, lelah, sakit. Tapi jika benar bertekad, kita semua akan sampai. Dekat. Bahagia. 

Terimakasih untuk rumputMu. Yang diakhir usia tandusnya masih berkenan menopang beban kami hingga tidak tergelincir dan jatuh. 

Terimakasih untuk bunga liarMu. Mungil sekali. Tapi tetap cerah merekah diantara luka lahan yang terbakar. Mengajarkan kami untuk bertahan dan berbagi semangat. 

Terimakasih untuk jalan setapakMu. Yang kelokannya tampak dari kejauhan. Bukan untuk membuat cemas tentang apa yang ada di depan kami, tapi untuk mengingatkan apa yang sudah kami lewati. Dan apakah itu semua cukup berharga untuk dilepaskan begitu saja dengan satu kata: menyerah. 

Terimakasih untuk negeri awanMu. Indah bukan buatan. Membentuk khayalan nyata di benak kami tentang khayangan. 

Terimakasih untuk angin dan batu besarMu. Mendekatkan kami yang asing selayaknya sahabat lama yang saling menjaga. 

Terimakasih untuk terbit dan tenggelamMu. Mengaguminya selalu. Dimanapun. 

Terimakasih untuk bintang-bintangMu. Terlihat JAUH lebih banyak dari biasanya. Dan terimakasih telah menjatuhkan satu untukku. Apa harapannya sempat terdengar? :p 

Terimakasih untuk bulanMu. Yang bahkan terangnya mengalahkan lampu yang kami bawa. Luar biasa. 

Terimakasih untuk savanaMu yang berundak-undak luas. Yang seolah berbisik setiap terhembus nafasMu, mengiringi langkah kami yang terbata-bata. 

Terimakasih untuk ayah kirimanMu. Yang dengan beritanya membuat kaki ini ingin berlari sejauh-jauhnya. Ke rinjaniMu. Tetap atas restunya tentu saja.

Terimakasih untuk Ibu, Mas Awang, T Ine, Uli, A Rangga, Windut, A Fajar, dan AnisMu. Yang dengan doa nya telah menenangkan hati ini untuk tak berhenti berlari. 

Terimakasih untuk Indah, Agung, Doni, dan PanduMu. Tanpa teman perjalanan yang tepat, puncakMu mustahil ku jejak. 

Terimakasih untuk Iie dan VinaMu. Yang bersedia memaafkan kami atas keingkaran rencana 7bulan lampau. Aku tau dibalik emosi dan kecewanya ada doa untuk kami.. *pede *peluk 

Terimakasih untuk Anggi, Isny, Nina, Yuki, Tiwi, Lisna, Amiw, dan Mas SajliMu. Pelukan jauhnya, pantauannya, jas ujan nya, kamera nya, jahe nya, jaket nya, sleeping bag nya, minyak kayu putihnya, sambutan anget banget nya, warung rarangnya. Lebih dari sesuatu! 

Terimakasih untuk orang-orang asingMu. Yang menawarkan persaudaraan. Hangat. Mengingatkan untuk maju terus karena di depan sana sudah menunggu kebahagiaan. 

Surat Terbuka untuk Masa Lalu

Tolong diam dan dengarkan.
"Jangan bergerak dari tempatmu sekarang.
Tetap klasik, terkotaki, atau tercetak dalam kertas menguning beraroma lampau.
Berhenti mengikuti kemana waktu pergi.
Berhenti mengikatnya dalam tali memori.
Lepaskan. Lepaskan. Tuntaskan.
Beri ruang pada jamanmu dan jamannya.
Personal. Tak terintegrasi. Bergerak. Bahagia.
Tiupkan salam berpisah, masa lalu.."

Friday, August 7, 2015

Rasa (bisa) Mati

Lama-lama akan terbiasa dan hilang dengan sendirinya..
Membawa serta jiwa hingga menguap macam rasa.
Tak akan ada lagi serupa emosi berpresisi.
Juga cinta.
Berharap saja bukan gila.

Pendosa Tak Berkaca

Sang pendosa memaki akhir minggu nya.
"Jika kau ada, kenapa tak ada guna?"

Sang pendosa menangis berteriak.
"Kupercayakan sebutir pengharapan sederhana padamu. Apa pasal??"

Sang pendosa meratap.
"Kukayuh senin ke jumat. Jumat ke sabtu. Dan sabtu yang terasa menanjak. Untukmu.."

Akhir minggu diam. Dengan alis terangkat, diucapkannya dengan lembut..
"Sudahkah kau berkaca?"

Tatkala Air Bergulir

Aku memuja air yang tampak tak pernah lelah merindu Tuhan..
Membayangkan kerelaannya tersengat matahari yang panas,
Hanya demi terangkatnya titik demi titik mungil uap ke angkasa luas.. Sedikit lagi menuju belaian Tuhan..

Aku memuja air yang tak pernah lelah mendamba pelukan Tuhan..
Lihat bagaimana uap-uap mungil itu saling mengait jemari..
Gumpalan awan raksasa bukan kerja sulit jika bersama..
Dan lihat bagaimana mereka membahu menuju-Nya,
Menggapai-gapai arasy.. Penuh harap walau cemas..

Aku memuja air sang hamba sarat taat..
Lihat kelabu itu, kawan..
Tuhan mengutusnya kembali dan kembali lagi ke bumi..
Mungkin petir itu jerit rindu nya yang gebu
Barangkali hujan itu derai tangisnya yang pilu
Dan kelabu itu.. Semua apa yang kita tau..

Aku sungguh memuja air yang jelas tak jera kecewa..
Ditunggunya kembali uluran sayang mentari yang mencabik..
Tak peduli kali berapa ia terus mencoba gapai..
Demi harap rindu segera usai....

KepadaMu Perihal Bumiku

Wahai pencipta Bumi, aku berterimakasih..
Untuk jernih matanya tertuju padaku dengan cinta,
Untuk aromanya yang candu, pengingat nirwana..
Untuk magisnya senyum dan gelitik yang mengajak,
Untuk tangis yang berbahasa,
Untuk pelukannya dikaki, perut, leher, atau apapun dalam jangkauannya,
Untuk caranya memanggilku ibu....

Wahai Pemilik Bumi, aku memohon..
Ijinkan aku terus menjaganya hingga nanti, meski ia telah mampu menjaga dirinya mandiri
Ijinkan aku terus membagi, filosofi semesta yang aku tau dan mampu
Ijinkan aku terus memberi.. Cinta tanpa syarat yang tak mengikatnya menjadi baik dan lebih baik..

Wahai Penjaga dan Pemelihara Bumi, aku tau..
Meski ia titipanMu, Kaulah yang menjaganya. Bahkan aku dan semua.
Kaulah yang melindunginya. Bahkan aku dan semua.
Kaulah yang paling mencintainya. Bahkan aku dan semua.

Jutaan terimakasih dan maaf tidak akan pernah cukup untuk karunia dan khilaf yang tak berbatas. Tapi setidaknya, kami mencoba. Terus mencoba....