Saturday, August 8, 2015

Pria bernama Awang Setiadji

Seperti pendayung rakit. Tak cukup kokoh dan sempurna. Sederhana. Dengan keluasan hatinya, mengorbankan ego-nya. Kebutuhannya. Kebahagiannya.

Dia bisa saja terus melaju ikuti aliran air. Hulu ke hilir. Menemukan samuderanya. Kebebasannya. Kemerdekaannya. Atau bahkan pulau bahagianya. Tapi, dia memilih tinggal. Menunggu di tepi sungai yang dalam menghanyutkan. Mengantarkan sesiapa yang ingin bermigrasi ke sisi seberang. Sisi yang lain. Yang lebih baik.

Aku hanya salah satunya. Dari entah berapa banyak. Yang dibantunya menyeberang.

Masih lekat dalam ingatan. Dialog via telfon kami sewaktu saya duduk di kelas 3 SMP. Beliau menanyakan rencana masa depan saya. Apa yang saya inginkan. Apa yang saya cari.
Jawaban saya sederhana sekali waktu itu. Mau masuk SMK terus cari kerja. haha. Nada bicara mas Awang naik satu oktaf. Alih-alih bicara tentang dongeng klasik "wanita ujung-ujungnya ke dapur juga", beliau menyarankan saya untuk sekolah yang tinggi.
"Masuk SMA. Terus kuliah. Mas yang bayar!"
Kakak lelakiku. Satu-satunya. Dengan 4 adik perempuan. Pahlawan.

Ketika adik perempuannya yang pertama ingin menikah, mas Awang rela menyerahkan nomor antriannya. Tanpa ada syarat suatu apa. Pun ketika adik perempuannya yang kedua. Dua kali sudah.
Kakak lelakiku. Satu-satunya. Dengan 4 adik perempuan. Penjaga kehormatan.

Adik-adiknya sudah lebih dari sekedar "tumbuh dengan baik" sekarang. Tepat ketika tangan cinta Tuhan bekerja. Mas Awang akan menikah :)
Syukurku terucap dari palung hati yang paling dalam. Mas Awang berhak mendapati bahagianya sendiri. Pada akhirnya. Bukan bahagia karena orang lain bahagia.
Kakak lelakiku. Satu-satunya. Dengan 4 adik perempuan. Akan berhenti menepi disini. Melanjutkan perjalanannya. Berkawan.

Alhamdulillah.................................. :)

No comments:

Post a Comment