Hampir jam ke-36 di tahun ini. Tapi hati dirasa telah tereksploitasi. Atau memang sudah seharusnya seperti itu? Meluap senang, berdetak bingung, bertanya, berdesir indah, berbisik, teriak, berontak, ragu, takut, jenuh, bersemangat, berharap, jatuh, sakit, sakit sekali, kalah, lelah. Dan bolehkah dia berhenti? Tidak. Karena dia belum mati.
Hidup itu sulit, dia tahu. Hidup itu sakit, ya pasti. Hidup itu berat, siapa yang tidak? Hidup itu keras, tentu untuk menguatkanmu. Jadi jika kakimu tak sanggup lagi menopang tubuh dan pikiranmu, bukan hidup yg tak berpihak. Kaulah yang lemah.
Hampir jam ke-36 di tahun ini. Tapi aku dan hati masi berkutat dengan masalah yang sama. Seolah tak bergerak dari tahun yang lalu. Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai ia merubah dirinya sendiri. Apa kuasaku untuk merubah ini? Keluarlah dari zona nyamanmu, jangan terlalu lama kau berkawan dengannya. Aku? Nyaman? Sungguhkah? Lalu kenapa terasa begini sakit dan lelah?
Yakinku bukan hanya aku yang mendapat luka ini. Luka terbagi rata untuk semua sesuai porsinya. Ya, luka kami sama. Tak ada yang lebih besar. Tak ada yang lebih kecil. Sama. Tapi kenapa aku tak melihat sesiapapun disini. Tanganku menggapai ruang hampa. Ingin bersandar, tp lalu terjatuh kecewa. Ingin dipelukmu, tp bahkan pikiranmu pun mungkin tak bercelah untukku. Dan aku pun kembali bertarung, tanpa kekuatan yang terisi ulang. Setengah hati. Setengah mati. Demi setengah titik perubahan. Astaga!
Bahwa ketika manusia beranjak senja sifat kekanak-kanakannya meluap, aku sudah sering dengar. Tapi jika itu genetik, hanya rasa ku kah? Setitik nila ini bukan hanya tentang kau dan aku, pertiwi. Bukan hanya tentang kita. Mereka pun terpercik rusaknya. Salahku lah yang menggapai uluran mereka ketika akan hanyut. Maaf... Hanya, aku tak bisa sendiri. Sungguh. Aku tak menaruhmu sebagai inangku. Bukan. Kau embun saharaku. Cercah pekatku. Garis senyumku.
Hampir jam ke-36 di tahun ini. Aku dan hati termangu di relung taksaka. Tanpa tau, perjalanan perang kah ini? Atau justru lari dari nya.
Hanya.. Aku rindu 1991. Waktu kau ada disitu. Selalu. Bukan untukku. Tapi yang kurasa begitu.
January 3rd, 2011
No comments:
Post a Comment